Stay in the Light [ OS : R. Ananda ] Part 1





STAY IN THE LIGHT

Part 1: Prolog

Hai, namaku Thomas Allen. Ini adalah cerita pribadiku ketika istriku menghilang disuatu kota kecil bernama "Wood City"

20 april 2001

Hari itu adalah hari yang indah di Chicago karena itu adalah hari dimana anakku, Hellena Allen, berulang tahun yang ke 15 tahun. Sayangnya dia menderita penyakit aneh yang membuat dirinya merasa sakit jika ada cahaya yang mengenai kulitnya, sehingga ia dirawat di Wood City. Istriku yang bernama Susan ikut dengannya dan menjadi dokter bedah di tempat Hellena dirawat. Tepat pukul 09:00am aku menerima telepon dari istriku, ia berkata :


"Thomas, cepatlah pergi kesini. Aku mohon, aku butuh pertolonganmu", Kata Susan dengan nada paniknya.

"Ada apa ?", tanyaku.
"Aku tidak tahu mengapa, tapi sesuatu telah terjadi di Wood City. Cepatlah..... Oh tidak! (sfx:zrrt roaahr tit tit tit tit)."
"Halo ? Susan kau masih disana? Sial !", teriakku sambil menutup telefon dengan keras.

Akupun langsung mengambil kunci mobilku dan pergi ke Wood City untuk menemui Susan yang mungkin sedang dalam bahaya. Sayang sekali jalanan sangat macet pagi itu dan kembali lancar pada pukul 02:00pm. Perjalanan ke Wood City masih sekitar 120 KM lagi. Aku terus memacu mobilku tanpa memperdulikan sekitar.
Aku pun tiba di wood city pada pukul 07:00pm dan sedang badai disana. Kota kecil ini terlihat sangat menakutkan dengan minimnya cahaya dan terlihat seperti kota mati. Aku tidak memperdulikan keadaan sekitar dan langsung pergi menuju rumah sakit dimana Susan berkerja. Sesampainya disana aku segera masuk kerumah sakit tersebut dan bertemu seorang pasien penderita cacat sedang duduk di kursi tunggu. Pa
sien tersebut bernama George, ia berkata :


"Hei kawan, kemarilah."
"Anda memanggilku ?", sahutku.
"Ya, kemarilah."
"Baiklah."
"Kau pikir apa yang kau lakukan? Mengapa kau datang ke kota terkutuk ini?"
"Terkutuk?", tanyaku dengan sedikit kaget.
"Ada makhluk aneh yang berkeliaran dikota ini. Kata orang-orang makhluk tersebut benci pada cahaya dan berasal dari rumah sakit ini."
"Bisa kau ceritakan lebih banyak padaku?", pintaku.
"Maaf. Aku tidak bisa.", jawabnya.
"Baiklah, tidak apa-apa. omong-omong apa kau tau dimana ruang bedah?", tanyaku dengan nada sedikit kecewa.
"Aku tidak tahu. Tapi kau bisa melihat denah rumah sakit ini di meja resepsionis."
"Terimakasih."


Aku pun pergi ke meja resepsionis. Anehnya tidak ada seorang pun dokter disini. Tidak bisa kupercaya ternyata rumah sakit ini lebih luas dari perkiraanku. Ruang bedah ada diujung rumah sakit, aku membawa denah tersebut dan masuk kepintu sebelah kiri. Disana aku bertemu dengan seorang pasien, ia berkata :


"Sobat, bawalah lentera ini. Ia akan melindungimu dari segala ancaman di rumah sakit ini."

Dan dengan wajah kebingungan, akupun menerima lentera tersebut dan membawanya bersamaku,


Aku semakin bingung, Apa yang sebenarnya terjadi disini ? Dengan membawa lentera tersebut, aku masuk menuju pintu yang berada diujung ruangan. Disana aku bertemu dengan 2 orang pasien. Salah satu dari mereka berkata :


"Kawan, tenanglah. Aku disini.", kata pasien tersebut.
"Ada apa?", tanyaku.
"Tuan, tolong buka jendela yang ada disana.", sahut pasien yang lain.
"Baiklah.", sembari ku mendekati jendela itu.

Akupun membukakan jendela untuk pasien tersebut. Saat aku membukanya, ternyata pasien tersebut memiliki bekas gigitan di kakinya. Salah satu pasien berkata 
:


"Ia adalah saudaraku, ia digigit oleh makhluk aneh tepat dikakinya. Aku berharap ia akan baik-baik saja.", katanya dengan mata yang berlinang air mata.
"Aku akan mendoakan agar kau baik-baik saja.", kataku sembari menggenggam erat tangannya.
"Terima kasih pak.", jawabnya.

Akupun masuk keruangan lain, diruangan tersebut aku bertemu seorang pasien yang memegang sekotak penuh lilin dan ia menyalakan salah satunya. Ia berkata :


"Pintu itu terkunci. Periksalah lemari itu, mungkin kau akan menemukan kunci didalamnya.", dia menunjuk sebuah lemari besar di sudut ruangan.

Aku membuka lemari yang dimaksud dan ternyata memang ada kunci disitu. Aku mengambil kunci tersebut dan menggunakannya untuk pintu yang dikatakan oleh pasien tadi. Pintu pun terbuka dan diruangan ini aku bertemu pasien lain yang sedang duduk dipojok ruangan sambil memegang lantera. Ia berkata :


"Kotak-kotak itu menghalangi jalan masuk, cobalah memindahkan kotak-kotak tersebut agar kau bisa masuk."

Kotak-kotak ini berukuran lumayan besar dan cukup berat. satu-satunya cara adalah dengan menarik dan mendorong kotak tersebut. Setelah memindahkan semua kotak, aku menemukan sebuah pintu. Tak berpikir panjang, akupun langsung membukanya.


To be continued..

Comments