Stay in the Light [ OS : R. Ananda ] Part 2


STAY IN THE LIGHT

part 2 : Sesuatu Dibalik Kegelapan

Aku menemukan sebuah pintu dibalik kotak-kotak tersebut. Akupun membukanya, dan dibalik pintu tersebut ada seorang pasien yang memegang senter, tetapi ia tidak menyalakan senter itu karena ia berdiri dibawah sinar lampu. Dan aku berkata :

"Permisi, apakah kau melihat Dokter Susan?", tanyaku
"Maaf, tapi aku tidak melihatnya.", jawabnya.
"Baiklah."
"Hei, bawalah senter ini dan tolong cepat buka jendela yang ada dipojok ruangan. Ada pasien malang yang pingsan disana. Dan omong-omong mungkin si pengawas ruangan tau dimana Dokter Susan berada."
"Baiklah, terima kasih.", jawabku.


Aku menerima senter yang dipegang oleh pasien tersebut dan mengarahkannya ke pojok ruangan. Ternyata memang ada seorang pasien yang pingsan disana. Akupun meletakan senter dan berlari ke arah pria yang malang itu. Ia masih hidup, akupun langsung membukakan jendela yang ada didekatnya dan berharap ia akan baik-baik saja. 

Aku mengambil senter yang kuletakan tadi dan membuka pintu yang ada didekat pintu masuk, sayangnya pintu itu terkunci. Aku membuka pintu lain yang ada didekat pasien tadi. Disana sangat gelap dan itu membuatku meletakan senter di dekat pintu kemudian membuka jendela yang ada diruangan tersebut. Setelah membukanya, ruangan ini hanyalah tempat penyimpanan obat. 
Aku membuka sebuah lemari di ruangan itu dan terdapat kunci didalamnya. Lalu aku mengambilnya dan mencoba menggunakan kunci tersebut untuk pintu yang ada di sebelah lemari tadi. Ternyata pintu ini adalah pintu yang terkunci tadi, jadi aku hanya berputar ke arah pasien yang memberiku senter tadi. Rumah sakit ini lebih pantas disebut labirin daripada rumah sakit. Aku mengambil senter yang kutinggalkan tadi, lalu aku memasuki ruangan tadi dan membuka pintu lain yang berada didekat rak buku.diujung ruangan tersebut, lalu ku lihat ada sebuah lantera yang masih menyala, lagi-lagi aku terpaksa meninggalkan senterku untuk mengambil lantera itu. 
Aku mengambil lantera tersebut dan didekat lantera itu ada tumpukan kotak yang menghalangi pintu masuk. Aku menyingkirkan semua kotak tersebut dan memasuki pintu didalamnya, dan tiba-tiba lantera ku padam. Didalam kegelapan ini aku mencari jalan keluar. Tapi secara tiba-tiba sesuatu mencakar tanganku hingga berdarah. Akupun berlari dan menemukan sebuah pintu. Dengan sekuat tenaga ku dobrak pintu tersebut dan ternyata ini adalah ruangan pertolongan pertama. Aku segera mencari perban untuk menutupi luka dilenganku. Setelah itu aku kembali fokus ke lorong. Lorong ini terlihat menyeramkan dengan cahaya yang sangat sedikit. Aku melihat sekitar dan tepat dibelakangku ada jendela, akupun membukanya dan sinar dari jendela tersebut menerangi setengah bagian lorong. 
Tak disangka-sangka, ada perapian di tengah lorong itu. Akupun menyalakan perapian tersebut dan betapa terkejutnya ketika ku melihat di sudut kiri lorong terdapat mayat seorang pasien pria yang masih mengeluarkan darah. Dan yang lebih mengerikan lagi setengah bagian tubuhnya menghilang. Aku tidak berani melihat pasien malang tersebut. Akupun terus berjalan ke pintu yang ada diujung lorong. Ruangan ini cukup terang dan terdapat pintu lain diujung ruangan. Dengan perlahan aku berjalan menuju pintu tersebut dan menemukan lantera di dekat pintu itu. Saat ku buka pintu itu, aku melihat seorang pasien dan juga lorong yang lain lagi. Pasien tersebut berkata :

"Akhirnya. Terima kasih Tuhan, rupanya ada orang lain di tempat ini.", kata sang pasien itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Hei, apakah kau baik-baik saja ?", tanyaku.

"Tentu saja aku tidak baik-baik saja. Lihatlah semua luka di tubuhku ini.", sembari dia menunjuk lengan dan kakinya yang penuh dengan luka.
"Maaf, tapi apakah kau melihat Dokter Susan ?", tanyaku.
"Iya, aku melihatnya. Dan dia mengatakan bahwa dia akan pergi ke ruang isolasi anak-anak.", jawabnya.
"Baiklah, terima kasih."
.
Akupun kembali melihat denah rumah sakit. Dari denah tersebut aku mengetahui kalau ruang gawat darurat berada di dekat ruang bedah. Aku segera pergi kelorong yang gelap itu sembari membawa lentera untuk menerangi jalanku melalui lorong tersebut.


To be continued..

Comments