Stay in the Light [ OS : R. Ananda ] Part 4


STAY IN THE LIGHT

part 4 : si Dokter Misterius

Aku menggunakan salah satu dari kedua penawar racun tersebut dan berharap itu akan berkerja. Beberapa saat kemudian Nina berkata :

"Aku harus memberitahukan sesuatu, lorong menuju ruangan bedah tertutup dengan barang-barang berat. Tapi kita bisa pergi kesana melalui basement."
"Baiklah.", jawabku.

Aku dan Nina berjalan pergi keruangan basement. Jalan menuju kesana sangat lah gelap dan cukup jauh karena kami harus melalu banyak anak tangga. Sesampainya disana aku terkejut karena bertemu seorang gadis kecil dengan benda seperti ekor kalajengking di punggungnya.

"Emily !", teriak Nina.
"Kau mengenalnya ?", tanyaku.
"Dia adalah saudariku, kumohon suntikan penawar racun tersebut kepadanya."

Aku bingung harus bagaimana, apakah mungkin penawar racun ini akan berkerja kepada seseorang yang sudah terinfeksi dan berubah. Dengan sangat terpaksa aku harus menyuntikan penawar racun ini kepadanya. Namun ia menggerakan ekornya dan mengarahkannya ke padaku. Aku segera menghindar dan pergi mendatangi saklar lampu yang ada disana. Aku langsung menyalakan lampu dan membuat ia terbakar, namun ia langsung memecahkan bola lampu yang ada disana. Aku segera melemparkan lantera ke arahnya hingga membuat ia terjatuh. Itulah kesempatanku untuk menyuntikan penawar racun kepadanya. Aku langsung berlari mendatanginya dan menyuntikan penawar racun melalui lengannya. Ekor kalajengking yang ada ditubuhnya semakin membesar dan akhirnya pecah. Nina langsung memeluk Emily yang sudah menjadi normal. Setelah itu Nina memelukku dan terus berkata "terima kasih" berulang-ulang. Kami pun langsung pergi dari basement dan mendatangi ruang bedah. Sayangnya disana tidak ada seorang pun.

"Aku tidak mengerti, harusnya ia ada disini.", kata Nina.
"Kak, sebelum aku berubah tadi, setahuku dokter Susan pergi ke laboratorium.", kata Emily.
"Benarkah ?", tanya Nina.
"Aku akan pergi ke laboratorium.", jawabku.
"Tidak perlu. Sebaiknya aku dan Emily saja yang pergi kesana.", sahut Nina.
"Baiklah."

Nina dan Emily pergi ke laboratorium sedangkan aku mencari Susan dan Hellena diruangan lain. Tetapi aku tidak menemukan mereka dimana-mana. Kemudian aku memeriksa ruang isolasi. Disana aku bertemu seorang dokter yang membukakan pintu dan membiarkan para pasien keluar.

"Pak, bisakah kau membantuku membuka semua pintu di sini?", kata dokter tersebut.
"Tapi mengapa?", tanyaku.
"Dokter-dokter lain telah melakukan penelitian yang aneh. Mereka menguji cobakan pasien-pasien yang sudah meninggal atau yang diisolasi untuk diubah menjadi grim zombie."
"Grim zombie?", tanyaku dengan sedikit kaget.
"Kau tahu, makhluk-makhluk aneh itu. Aku sendiri juga tidak mengerti mengapa mereka menciptakan makhluk-makhluk itu, tapi beberapa warga kota beranggapan para dokter-dokter lain mengikuti ajaran sesat. Warga kota sering melihat dokter bedah, resepsionis, dan ilmuwan di rumah sakit ini keluar saat tengah malam sambil membawa beberapa mayat pasien menggunakan ambulan dan pergi ke kota Dark Raven yang ada di dekat gunung. Selain itu mereka juga sering menggunakan anak-anak diruang perawatan sebagai kelinci percobaan.", jawab dokter tersebut.
"Tunggu sebentar. Kau bilang dokter bedah?", tanyaku.
"Iya pak, dokter bedah."
"Ya Tuhan.", jawabku dengan shock.
"Ada apa pak?"
"Istriku adalah salah satu dokter bedah disini."
"Astaga. Jika jadi anda, sayu akan pergi dari kota ini dan mulai melupakannya.", kata dokter itu.
"Tidak akan. Aku akan terus mencarinya."
"Baiklah, aku akan membantumu tapi tolong aku membebaskan pasien-pasien ini sebelum terlambat."
"Baiklah."

Aku dan dokter tersebut segera membebaskan para pasien dan membiarkan mereka kabur. Setelah mereka semua bebas, dokter tersebut memberikan satu penawar racun yang ia buat sendiri.

"Aku tidak tahu apakah itu akan bekerja tetapi semoga saja.", kata dokter tersebut.
"Terima kasih banyak.'

Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki dari pintu masuk.

"Ya ampun. Cepatlah pergi dari sini.", desak dokter tersebut.
"Tapi bagaimana denganmu?"
"Aku tidak apa-apa. Ingatlah, kau harus tetap hidup. Bukankah kau ingin menemui istrimu ?"
"Baiklah. Jaga dirimu."

Aku pergi meninggalkan dokter pria tersebut tapi aku tidak benar-benar menjauh. Aku bersembunyi dibalik pintu yang menuju ke laboratorium. Beberapa menit kemudian datang seorang pria berjubah merah.

"Apa yang kau lakukan disini?", tanya pria misterius itu.
"Aku tidak melakukan apapun.", jawab sang dokter.
"Kemana semua pasien?"
"Entahlah."
"Kau berbohong !"
"Tidak, aku baru saja sampai disini.", jawab dokter tersebut.
"Kutanya sekali lagi apa yang kau lakukan disini?", sembari mengeluarkan pisau dari balik jubah merahnya.
"Kau mengancamku?", tanya dokter tersebut.
"Bersiaplah karena kau akan dijadikan grim zombie.", disusul dengan sebuah tusukan ke perut sang dokter.
"D-dasar bodoh,.k-kau pikir aku takut? Aku selalu percaya Tuhan akan melindungiku.", kata sang dokter itu, yang mungkin akan menjadi kata-kata terakhirnya.
".....", sang pria lalu menusukkan pisau ke dada dokter.

Aku tidak kuat melihat pemandangan yang mengerikan ini.

To be continued..

Comments